Bermain sosial media adalah hal yang sangat menyenangkan. Bisa catch up dengan teman lama yang tinggal berbeda daerah dari kita, melihat postingan foto bahagia orang-orang, mendapat informasi terkini, dan bahkan mengetahui hal sebelumnya belum pernah kita lihat.
Ketika melihat orang mengunggah foto makanan, liburan, atau bahkan pencapaian mereka di sosmed seakan membuat kadar dopamine dalam tubuh kita ikut menjadi naik. Tapi ada kalanya melihat semua itu malah menjadi bumerang bagi diri sendiri. Hal-hal tersebut mulai menjadi bumerang ketika kita mulai membandingkan isi postingan yang mungkin hanya beberapa detik itu dengan kehidupan diri sendiri.
"wih, dia udah dapet magang di perusahaan X, aku daftar magang kok nggak pernah keterima ya"
"Di umur yang sama dia udah bisa ngehasilin uang sendiri, sementara aku kok masih minta orang tua ya?"
"kok aku gini-gini aja ya? nggak kaya temen-temenku di Instagram"
Pikiran-pikiran seperti ini seringkali datang dan tidak dapat dihindari. Beberapa orang akan menyikapinya dengan cuek tapi beberapa lainnya akan terus kepikiran dan mulai menyalahkan dirinya sendiri karena tertinggal dari 'Postingan-postingan Teman di Instagram'
"Tapi bagaimanapun juga orang yang mengunggah pencapainnya di instagram nggak salah dong! kan itu sosial media milik mereka!"
Ya! bener sekali, mereka tidak salah dan orang-orang yang insecure pun juga nggak salah.
Terus bagaimana dong kalau kita nggak bisa berhenti insecure dan terus membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain ?
Mengendalikan Diri Sendiri
Mengutip salah satu isi buku yang pernah aku baca yaitu Filosofi Teras dimana intinya : kebahagiaan sepenuhnya dikendalikan oleh diri kita sendiri. Kita nggak bisa mengendalikan orang lain dan kita tidak bisa menggantungkan kebahagaiaan kita ke orang lain.
Dengan terpaku oleh isi sosial media orang lain, serta mengharuskan diri kita menjadi seperti mereka itu artinya kita menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Nantinya, ketika kita tidak bisa mencapai standar-standar yang sama dengan mereka, kita akan sangat kecewa dan berakhir tidak bahagia.
Bentuk-bentuk pengendalian diri sendiri juga bisa dimulai dari beberapa hal di bawah ini :
1. Berhenti membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain
Membandingkan diri sendiri dengan orang lain tidak akan pernah ada habisnya, malah membuat diri sendiri menjadi lebih capek dan selalu merasa kurang, selain itu kita juga cenderung tidak pernah menghargai kerja keras diri sendiri.
Pikiran untuk selalu membanding-bandingkan diri sendiri akan selalu muncul, hal ini mungkin karena manusia punya jiwa kompetitif yang cukup besar. Disini aku mengganti objeknya, sebelumnya aku membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan sekarang aku menggantinya dengan membandingkan diri dengan diri aku sendiri di masa lalu.
Contohnya masalah IPK, dulu aku pernah membanding-bandingkan IPK dengan teman dan hasilnya aku malah tidak pernah puas dengan hasil kerjaku. Saat ini aku tidak pernah lagi melakukan hal tersebut, kalau aku ingin membandingkan ya aku akan membandingkan IPK ku pada semester ini dan IPK ku di semester yang lalu.
Jika mengalami penurunan aku bakal evaluasi diri, mungkin di semester ini aku terlalu fokus di organisasi atau kurang belajar sehingga di semester baru nanti akan menyusun strategi belajar baru dan berusaha yang lebih baik lagi.
2. Detox Sosial Media
Detox sosmed adalah salah satu hal yang menurutku cukup ampuh untuk menyelesaikan masalah seperti ini. Detoksifikasi sosial media yaitu dengan cara mengurangi penggunaan sosial media atau bahkan tidak menggunakan sosial media sama sekali. Aku sudah melakukan cara ini berkali-kali dan selalu berhasil. Dari detox sosmed yang pernah aku lakukan, aku menemukan bahwa hidup jauh lebih tenang dan pikiran menjadi lebih kondusif karena tidak banyak terpengaruh dari sosmed.
"Ih sampe segitunya banget sih ? kamu itu punya penyakit hati kali, makanya sampe nggak mau liat postingan orang!"
Mungkin ada orang yang berpikiran seperti ini atau bahkan ada orang yang mau detox sosmed tapi takut di cap seperti ini, siapapun bebas berpendapat tapi kita juga bebas untuk melakukan hal yang kita mau. Kalau menurutmu detox sosmed bisa membantu ya lakuin aja.
----
Semoga tulisan aku ini dapat berguna bagi siapapun yang membaca!
-Talia
Komentar
Posting Komentar